February 7, 2013

Operasi LAPAROSCOPY

Pengalaman Laparoscopy (2012)

Disini aku akan sedikit berbagi cerita pengalaman saat menjalani operasi Laparoscopy.
Saat hari aku mendapat haid, langsung aku menghubungi dokter yang ahli Laparoscopy.

Setelah mendapat penjelasan tentang laparoscopy, dokter langsung memberiku surat pengantar. Kali ini aku ambil tempat operasinya di RS Panti Wilasa, Jl.dr cipto semarang, karena beliau juga praktek disana. 
Kenapa aku ambil disana? karena menyesuaikan dana yang ada, (hehe..)
Akhirnya aku bikin janji dengan dokter dan Rumah Sakit setempat, bahwa aku akan menjalani operasi Laparoscopy tanggal 2 November 2012.
Oh ya, laparoscopy ini bisa dilakukan kapan saja asal tidak dalam kondisi sedang haid.

Tibalah hari yang ditunggu.
1 November 2012
Jam 15.00 sore berangkatlah kami ke rumah sakit. Langsung daftar rawat inap, menyerahkan surat pengantar untuk laparoscopy, juga berkas hasil HSG, membayar pendaftaran rawat inap, dan memesan ruang inap kelas-2.
Sambil menunggu ruang dipersiapkan, aku mulai diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium. Juga tes alergi, dan lain-lain.
Dan suami juga diminta untuk menanda-tangani surat-surat persetujuan tindakan operasi yang bermeterai.
Pemeriksaan kadar Hb (Hemoglobine) juga dilakukan, karna ini penting untuk persiapan operasi. Karena jika Hb rendah maka operasi akan ditunda dan harus menjalani transfusi darah terlebih dahulu supaya Hb normal.
Seperti pengalaman teman yang waktu itu akan menjalani laparoscopy dengan Hb yang rendah, yang akhirnya operasinya ditunda satu hari untuk transfusi darah terlebih dahulu.
Dan Puji Tuhan,..karena kadar Hb-ku normal, jadi tidak perlu transfusi darah.

Setelah hampir 1 jam menunggu, akhirnya kamar sudah siap dihuni..
Langsung ganti baju dengan baju yang aku bawa dari rumah karena belum dapat seragam kebesaran pasien..hehe..jadi serasa dirumah.
Malamnya, masih bebas mondar-mandir, ke kamar kecil, dan masih bisa memperhatikan pasien-pasien disebelah (karna ruangan yang aku ambil adalah Ruang kelas-2, berisi 4 bed pasien). Belum ngerasain apa-apa, bahkan belum ada rasa takut sedikitpun. Orang-orang disebelah juga sepertinya pada bingung lho,..kenapa aku dirawat inap, kayaknya nggak kelihatan sakit, sehat walafiat!
Hhmm..tunggu tanggal mainnya..

2 November 2012
Malam sebelumnya, perawat memberiku obat untuk diminum jam 04.00 pagi. Obat ini untuk membantu melancarkan buang air besar, karena sebelum operasi perutku sudah harus dikuras sampai kosong.
Jam 04.00 pagi, obat sudah kuminum. 
Jam 05.00 pagi perawat datang membawa segelas besar susu sapi segar hangat untuk langsung diminum, karena mulai jam 6 pagi aku harus sudah mulai puasa, jadi aku tidak mendapat sarapan, hanya segelas susu.
Setelah mondar-mandir ke kamar kecil, perut sudah mulai terkuras, sudah mandi dan dandan wangi tentunya...(hehe), beberapa perawat masuk dengan membawa beberapa  peralatan. 
Naah,..ini nih yang bikin jantung mulai dag-dig-dug.
Pertama, aku disuruh ganti dengan baju pasien warna hijau, tanpa underwear.
Lalu disuruh tiduran, dan perawat mulai mempersiapkan alat-alat sambil ngobrol :

Perawat : " Nanti operasinya jam 11 siang ya bu.."  
Aku       : "iya sus,.." 
Perawat : " sekarang saya pasang dulu infusnya sama kateternya ya bu.."  
Aku       : "iya sus,.." (pasrah)

Setelah jarum infus terpasang, meski sedikit agak susah cari-cari uratnya sampai harus ganti posisi 2 kali, tapi nggak pa-pa...kalo masalah jarum infus mah keciil... Lanjut sus!
Kateterpun dipasang,.. alamaaak!  kalau disuruh memilih, aku lebih memilih ditusuk jarum infus 10 kali atau 15 kali... tapi yang namanya dipasang kateter, huulalaaa...


Setelah aku terbaring tak berdaya, suami pun datang. Karena malamnya dia pulang dan tidur nyenyak di rumah.
Jam 10.00 pagi, jantung mulai bergerak cepat. Jujur, aku sudah mulai takut luar biasa. Bukan tentang operasinya, karena aku yakin tidak akan merasakan apa-apa karena akan dibius total. Tapi justru aku takut biusnya itu lho...hiks hiks..
Suami pegang tanganku dan bilang, " doa dulu, yang.."    
" duuh,..kayaknya dah gak bisa mikir apa-apa deh, doa pun juga sudah gak bisa.." jawabku.

Untungnya, dari pagi aku mendengar alunan lagu-lagu rohani dari speaker ruangan yang tiba-tiba memberiku kekuatan, ketenangan. Thanks God, Engkaulah kekuatanku..
Makasih juga buat pihak RS, ternyata meskipun terdengar sayup-sayup tapi sanggup memberi ketenangan buat pasien. Terlebih ada bagian pelayanan khusus yang datang mendoakan untuk kelancaran operasiku. Terima kasiih..

Jam 11.00 , perawat datang dan menyampaikan kabar kalau dr.Syarief sedang menangani pasien yang melahirkan sesar, jadi jadwal operasiku agak terlambat.
Jam 12.00 , perawat kembali datang. Tapi kali ini memanggil namaku untuk bisa masuk ke ruang operasi (eng ing eeng..)
Dengan dibantu beberapa perawat, aku dipindah ke bed yang lain. Duuh, kenapa badanku jadi kaku begini? Hanya karna ada infus dan kateter saja masa sampai merasa tak berdaya begini...(hihi)
Berdoa terus ya suamiku...
Lalu aku mulai didorong ke ruang operasi. Tak henti-hentinya aku berdoa dalam hati, sambil sekilas kulihat diatas pintu masuk ruang operasi ada papan bertuliskan 'Tetaplah Berdoa'..
Sampai di dalam ruangan operasi, aku ganti bed lagi (mungkin ini bed khusus untuk operasi).

Selanjutnya aku dibawa masuk lagi ke ruangan yang benar-benar inilah ruang operasi. 
This is it..! Segala macam peralatan medis yang asing bagiku (karena ini pengalaman pertama operasi) ada disekelilingku, juga lampu-lampu sorot yang besar-besar. Beberapa perawat wanita dan perawat laki-laki mondar-mandir menyiapkan segala sesuatunya. Tapi tak juga kulihat wajah dr.Syarief yang akan mengoperasiku. Yang datang kemudian adalah dokter anestesi. Lalu mulailah dokter itu memberi suntikan lewat infus, dan aku yakin inilah saatnya aku dibius... 

" Merem aja ya bu...karna suntikannya nanti bikin sedikit agak pusing.." kata dokter.
Itulah kata-kata terakhir yang kudengar. Sambil terus komat-kamit baca doa, aku mulai merasakan badanku serasa kesemutan, suara-suara juga sudah terdengar agak jauuh..pelaan...lalu...ZzzzzZzz...

Saat aku mulai sadar, pertama yang aku rasakan adalah dinginnya oksigen di hidungku, dan meski agak berat aku berusaha menggeser tanganku. Pertama yang ingin aku raba adalah bagian perut (meskipun baru saja tak sadarkan diri karna efek bius, dan mata masih sayup-sayup....bukan berarti aku bangun dan amnesia... tetep ingat aku baru saja selesai di-operasi!).

Ternyata sudah terasa ada plester yang menempel pas di pusar, beberapa centimeter sebelah kiri pusar, dan satu lagi agak kebawah sebelah kiri juga. Jadi aku mendapat 3 lubang bekas operasi (Operasi laparoscopy ini hanya membutuhkan 3-4 lubang kecil di perut dan pusar). 
Akhirnya lega, ternyata operasi sudah selesai, dan aku sudah di ruang pemulihan.
Thanks God, You wake me up already..
Suara-suara juga sudah mulai terdengar. Pelan-pelan kubuka mata dan yang pertama kulihat adalah jam dinding yang menunjukkan pukul 14.00 
Jadi butuh waktu 2 jam untuk tindakan operasi dan pemulihan.
Perawat melihat kalau aku sudah sadar, lalu aku didorong kembali masuk ruang rawat.
Sudah kudengar suara suamiku,...dan suara perawat yang mengatakan kalau aku boleh minum setelah benar-benar sadar. 
Karena masih ngantuk, tidur lagi ah...ZzzZzz..

3 November 2012
Hari ini adalah hari pemulihan pasca operasi. Aku masih terbaring tak berdaya. Infus, kateter masih melekat, jadi belum bisa apa-apa. Makan juga disuapin suami. Tidur seharian bikin punggungku pegel semua. Semoga semua cepat berlalu..
Sorenya, dr.Syarief melakukan kunjungan pasien, pas ! suami baru saja keluar mencarikanku kue pao isi coklat yang kuminta. Jadilah cuma aku sendiri yang mendengarkan penjelasan dokter. 
Dokter bilang, kalau saluran tuba-ku sudah bagus semua. Kista yang selama ini tampak di foto HSG, ternyata kista yang berisi cairan coklat dan sudah diangkat, beserta perlengketan yang terbilang parah di saluran kiri, juga sudah dibereskan!  
Puji Tuhan..
Dan dokter juga sudah langsung memberikan suntikan anti perlengketan. Jadi suntikan ini untuk mencegah agar tidak terjadi perlengketan kembali.

4 November 2012
Hari ini aku boleh pulang. Yiippii....
Pagi-pagi suami sudah mengurus segala sesuatunya. Tagihan sudah dibayar, juga resep-resep obat yang untuk diminum nanti di rumah, tinggal menunggu surat ijin pulang.
Perawat juga sudah melepas semua 'bebanku' selama ini, infus dan kateter. Legaa.. Aku siap pulang... 

Setelah 1 minggu pasca laparocopy biasanya kita akan disuruh datang untuk kontrol dan lepas plester yang menempel di 3 bagian perut. Tadinya agak ngeri juga membayangkan seperti apa berkas lubang operasinya ya? 

Tapi ternyata...,bekasnya tuh keciiiil...banget! Karena hanya butuh 1-2 jahitan di setiap lubang, itupun jahitnya dibawah kulit, lalu kulit luarnya seperti di 'lem' sangat rapi.
Dan setelah aku perhatikan, bekas luka laparoscopy itu hanya terlihat seperti goresan kecil! 
Jadi teman-teman yang belum pernah dan akan menjalani laparoscopy ini jangan takut yah,...nanti juga akan dikasih resep obat saleb untuk penghilang bekas luka.


******
Program Pasca Laparoscopy




Pasca menjalani operasi Laparascopy tgl 2 November 2012, aku melalui hari-hari pemulihan di rumah. Masih tidak bisa dan tidak boleh beraktivitas terlalu banyak.
Oh ya..sepulang dari rumah sakit,  aku masih mengeluarkan sedikit darah di missV, kemungkinan itu darah sisa operasi. Sesampai di rumah selang dua hari darah keluar bertambah banyak,..dan kemungkinan aku lanjut keluar haid. Satu minggu kemudian datang konsultasi ke dokter dan sudah bisa lepas plester yang ada di tiga bagian. Hampir dua minggu badan masih saja lemas, seakan hilang tenaga.

Tgl 4 Desember 2012 
Hari pertama haid, aku langsung daftar untuk ceck-up ke dokter. Kuputuskan untuk melanjutkan program bersama dr.Syarief Thaufik ,SpOG (dokter yang juga mengoperasiku).
Tapi untuk melanjutkan program ini aku memilih tempat di RSIA Hermina Pandanaran Semarang. Selain tempatnya yang tidak terlalu jauh dengan tempat kerja suami, dr. Syarief juga praktek setiap hari dari senin sampai sabtu, jadi aku bisa mudah menyesuaikan waktu untuk periksa.

Setiap kali datang, jangan tanya antriannya... Pasiennya banyak dan aku selalu dapat nomor antrian diatas 25. Kali ini aku dapat obat pemacu ovulasi untuk diminum selama 5 hari, mulai hari ke-3 haid. Lalu dijelaskan masa suburnya, diberi resep obat penguat kandungan dan vitamin untuk diminum mulai masa subur. Bulan ke-1 ini masih dianjurkan alami dulu. 
Dan ternyata,..belum berhasil.


Tgl 1 Januari 2013
Haid datang. Kembalilah aku ke dokter lagi. Tapi berhubung daftar dokter via telpon harus 1 minggu sebelumnya, sedangkan aku telpon dadakan untuk tgl 2 antrian sudah habis sampai 1 minggu kedepan. Duh, gimana nih... Akhirnya aku jelasin ke penerima telpon bahwa aku masih program dan saat haid aku harus ketemu sama dokternya. Dan aku disuruh datang  tgl 2 tapi lapor dulu sama suster yang terima antrian kira-kira masih bisa terima pasien atau tidak. 


Tgl 2 Januari 2013, aku datang dan ternyata sudah tidak bisa terima pasien lagi, karena hari itu antrian sudah mencapai 40 nomor!

Padahal aku sudah menunggu 2 jam. Akhirnya suster bilang aku boleh daftar untuk besoknya, tgl 3. Jadilah aku langsung menuju resepsionis dan dapat nomor antrian 26 untuk tanggal 3.

Tgl 3 Januari, aku balik lagi ke Hermina, ketemu dokter. Masih dapat obat yang sama, obat pemacu ovulasi dan vitamin untuk aku dan ada obat untuk suami. Hmm...ternyata obatnya suami yang mahal!

Hari ke-12 ada pemeriksaan USG-tranV untuk melihat perkembangan sel telur.


Karna haidku mulai tgl 1, maka tgl 12 Januari 2013 aku datang untuk menjalani cek sel telur.

Pemeriksaan dimulai..

" wah telurnya banyak,bu.. ibu lihat sendiri ya, " kata dokter. 

Dan memang saat aku lihat di layar monitor ada tiga sel telur di sebelah kanan dengan ukuran 22mm - 22mm - 23mm. Dan disebelah kiri ada satu dengan ukuran 21mm. Ketebalan rahim 9,1mm (kata dokter, ketebalan rahim minimal 7mm untuk bisa hamil).

Jadi jumlah total sel telur yang sudah terbilang matang ada 4 buah (ukuran sel telur yang diharapkan bisa ovulasi adalah minimal 18mm). .
Dokter menyarankan untuk inseminasi, tapi berhubung masih belum siap, aku putuskan untuk mencoba konsepsi alami saja dulu.
Inilah gambaran hasil USG-Transv (cek sel telur) :

fayfay31.blogspot.co.id
usg
Tgl 29 Januari 2013 
Aku mendapat haid...itu berarti program bulan ini masih belum juga berhasil. So sad, empat telurku terbuang sia-sia. Padahal aku sudah optimis banget bakal hamil bulan itu, karena kupikir dari 4 sel telur yang matang harusnya ada salah satu yang mungkin bisa dibuahi. Tapi mengapa tak satupun yang berhasil dibuahi.
Setelah kupikir-pikir, kuanalisa,..apa lagi ya yang menjadi kendalanya?
Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan dokter, kami memutuskan untuk mencoba Inseminasi.






*Selanjutnya, adalah usahaku dengan mencoba ..INSEMINASI KE-1 


12 comments:

  1. Mbak febe, salam kenal yaa...kebetulan sy jg didiagnosa mengalami penyumbatan saluran rahim sblh kiri dan oleh sebab itu menjadi sulit utk hamil, dokter memberikan 2 opsi yaitu oprasi laparoscopy dan bayi tabung, tapi dokter ttp menyarankan opsi yg pertama, yg sy ingin tanyakan setelah mbak febe melakukan operasi dan inseminasi apakah sdh ada hasilnya? Sy sdh inseminasi jg cm tdk berhasil :( kebetulan sy program baby d hermina semarang dgn Dr. Fadjar, mohon info selanjutnya setelah mbak operasi dong mbak :) ᵗʰᵃᶰᵏᵧₒᵤ ⌣̈ yaaa...

    ReplyDelete
  2. Lebih baik dicoba dulu utk opsi pertama (laparoscopy).
    Aku malah saluran buntu dua2nya...setelah laparoscopy hasilnya bgs dan saluran udah terbuka, ini terbukti dari hsl inseminasi 3x sudah terjadi pembuahan (berarti saluran udah lancar)...hanya memang mungkin blm rejekinya aja, insemku msh blm berhasil..hehe..
    Tp kl kamu udah siap utk bayi tabung ya gpp sih,...btw apapun nanti opsi yg diambil, semangat yaa...good luck n GBU.

    ReplyDelete
  3. Proses laparoscopy sakit gk mbak? "̮♡hϱϱ♡hϱϱ♡hϱϱ♡"̮..,klo boleh tau mbak febe abis brp utk biaya operasinya? utk bayi tabungnya dokter blg klo dipaksakan tingkat keberhasilannya kecil sekali mengingat cairan yg menyumbat di saluran itu membunuh setiap sperma yg masuk :( sy baru akan kontrol lg dan konsul ttg laparoscopynya setelah selesai menstruasi bln ini mbak, btw biaya insem jg kan mahal mbak febe apalagi mbak udh bbrp kali insem kok gk cb bayi tabung sj? Siapa tau krn sdh d operasi bs langsung jadi dan kembar :)

    ReplyDelete
  4. namaku ana, apakah 14 juta itu sudah semua sampai keluar dari RS?
    terima kasih infonya

    ReplyDelete
  5. mbak febe saya mau tanya apa obat2 n multivitamin yg diresepkan oleh dr. syarif selalu mudah didapat mbak? belinya di apotik mana mbak? makasih infonya. please replay

    ReplyDelete
  6. Halo mba rizkiana...

    Maaf baru balas, iya mba..14jt itu udah total biaya perawatan+operasi s/d keluar RS... Tp blm termasuk biaya cek kesehatan sebelum masuk rawat inap (seperti cek darah Hb, dsb)

    ReplyDelete
  7. Halo mba nury rysranti...

    Maaf baru balas,...kalao aku biasanya obat yg dari dr.syarief lsg aku tebus di RS hermina setempat.
    Pernah coba cari di apotik lain tp agak susah, terutama obat yg utk suami.

    ReplyDelete
  8. Mbk...maaf apakah saluran tuba mbk sebelumnya non paten atw tersumbat juga...gimana caranya membuka sembatannya

    ReplyDelete
  9. mbak, setelah operasi mengalami mundur haid gak? atau tetep lancar sama tanggal seperti bulan sebelumnya?

    ReplyDelete
  10. @ bumadi

    waktu laparoscopy aku sengaja ambil harinya menjelang haid.. jadi brp hari setelah laparoscopy lsg kluar haidnya..
    Bln berikutnya seingatku jadwal haidnya gak ada masalah, dan gak pernah mundur haid mbak..

    ReplyDelete
  11. syukurlah lancar berarti. sama sih mba.. aku jg operasi 10 hari sebelum haid, dan blm dapet haid ampe skr, iseng2 pake testpack muncul garisnya 2.

    waaa.. beneran gak ya, apa di PHP in ama hasil testpack o_O

    mba febe gmn? udah berhasil blm program nya?

    ReplyDelete
  12. Mbk febe mw nanya setelah oprasi LO ndak suntik tapros selama 6 bulan biar g dpt mens? Skrg promil smpe mana mb? Mksh infonya mb febe

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...