February 7, 2013

Baby Program (3) LAPAROSCOPY

Pengalaman Laparoscopy (2012)


Setelah keputusan diambil, bertekad bulat, menata semangat, mengumpulkan isi dompet, berdoa, kujalani yang namanya Laparoscopy.
Pas hari aku dapet haid, langsung kucari dokter yang menurut referensi yang kudapat beliau ahli dalam laparoscopy dan fertilitas. Sebenarnya aku sudah pernah periksa dengan dokter ini waktu menjalani pemeriksaan SIS di RS Hermina Semarang th 2009 yang lalu. 
Beliau adalah Dr. dr. Syarief Thaufik Hidayat, Ms.Med, SpOG, KFER, D.MAS (semoga gak salah dalam penulisan, hehe..) Dan langsung menuju ke RS Hermina tempat beliau praktek.
Entah kenapa, aku langsung memilih dokter ini untuk menjadi opsi terakhirku. Selain terlihat smart, dokter satu ini juga ramah, enak bicaranya. He is the best choice, I think..
Pokoknya serasa sudah feeling dan sudah kurasakan chemistry (ciiiyaah...) dan mantap hati akan kujalani program sampai berhasil dengan dokter ini, meskipun aku baru 2 kali bertemu dr. Syarief th 2009. 
Karena melihat dari pengalaman2 dengan dokter yang pernah kujumpai, bukannya memberi semangat justru sempat ada yang membuatku down dan malas pergi ke dokter.

Setelah dapat penjelasan bla-bla-bla tentang laparoscopy, dr. Syarief memberiku surat pengantar. Kali ini aku ambil tempat operasinya di RS Panti Wilasa, Jl.dr cipto semarang, karena beliau juga praktek disana. Kenapa aku ambil disana? karena biayanya sesuai budget yang ada..hehe..
Akhirnya aku bikin janji dengan dokter dan RS setempat, bahwa aku akan menjalani operasi Laparoscopy tanggal 2 November 2012.
Oya, laparoscopy ini bisa dilakukan kapan saja asal tidak dalam kondisi sedang haid.

Tibalah hari yang ditunggu.
1 November 2012
Dengan membawa 1 tas ranselnya suami yang berisi tetek bengek persiapan nginep. Berangkat dari rumah jam 3 sore, aku dan suami menuju ke RS. Langsung daftar rawat inap, menyerahkan surat pengantar untuk laparoscopy, juga berkas hasil HSG, membayar pendaftaran rawat inap. Sambil menunggu ruang kamar yang kami pesan, aku diambil darahnya untuk pemeriksaan lab. juga tes alergi, dll. Dan suami sudah diminta untuk menanda-tangani surat2 persetujuan yang bermeterai.
Pemeriksaan kadar Hb (Hemoglobine) juga dilakukan, karna ini penting untuk persiapan operasi. Karena jika Hb rendah maka operasi akan ditunda dan harus menjalani transfusi darah terlebih dahulu supaya Hb naik. 
Seperti pengalaman teman yang waktu itu akan menjalani laparoscopy dengan Hb yang rendah, yang akhirnya operasinya ditunda 1 hari untuk transfusi darah terlebih dahulu.
Dan Puji Tuhan,..karena Hb-ku normal, jadi nggak perlu transfusi darah.

Setelah hampir 1 jam menunggu, akhirnya kamar sudah siap dihuni..
Langsung ganti baju dengan babydoll yang aku bawa karena belum dapat seragam kebesaran pasien..hehe..jadi serasa dirumah.
Malamnya, masih bebas mondar-mandir, ke kamar kecil, dan masih bisa memperhatikan pasien2 disebelah (karna ruangan yang aku ambil berisi 4 org). Belum ngerasain apa-apa, bahkan belum ada rasa takut sedikitpun. Orang-orang disebelah juga ada yang bingung lho,..kenapa aku dirawat inap, kayaknya nggak kelihatan sakit, sehat walafiat!
Hhmm..tunggu tanggal mainnya..

2 November 2012
Malam sebelumnya, suster memberiku obat untuk diminum jam 4 pagi. Obat ini untuk membantu melancarkan BAB karena sebelum operasi perutku harus dikuras sampai kosong.
Saking nggak mau telat jamnya, aku setel tuh alarm bb. 
Jam 4 pagi, obat sudah kuminum. Jam 5 pagi suster datang membawa segelas besar susu sapi segar hangat untuk langsung diminum, karena mulai jam 6 pagi aku harus sudah mulai puasa, jadi aku nggak dapet jatah sarapan, cuma segelas susu, lumayanlah...sudah bisa menghangatkan perutku.
Setelah mondar-mandir ke kamar kecil, perut sudah mulai terkuras, sudah mandi dan dandan wangi tentunyaa..., beberapa suster masuk dengan membawa peralatan. Naah,..ini nih yang bikin jantung mulai dag-dig-dug.
Pertama, aku disuruh ganti dengan baju kebesaran pasien warna hijau, tanpa underwear.
Lalu disuruh tiduran, dan suster mulai mempersiapkan alat-alat sambil ngobrol :
" Nanti operasinya jam 11 siang ya bu.."  
"iya sus,.." 
" sekarang saya pasang dulu infusnya sama kateternya ya bu.."  
"iya sus,.." (pasrah)

Setelah jarum infus terpasang, meski sedikit agak susah cari2 uratnya sampai harus ganti posisi 2 kali, tapi nggak pa-pa...kalo masalah jarum infus mah keciil...lanjut sus!
Kateterpun dipasang,.. alamaaak!  kalau disuruh milih, mending aku ditusuk jarum infus 10 kali, 15 kali...tapi yang namanya dipasang kateter, huulalaaa...




Setelah aku terbaring tak berdaya, suamiku pun datang. Karena malamnya dia pulang dan tidur nyenyak di rumah.
Jam 10 pagi, jantung tambah bergerak cepat. Jujur, aku sudah mulai takut luar biasa. Bukan tentang operasinya karena aku yakin nggak bakal ngerasain apa-apa karena akan dibius total. Tapi justru aku takut biusnya itu lho...hiks hiks..
Suami pegang tanganku dan bilang, " doa dulu, yang.."    
" duuh,..kayaknya dah gak bisa mikir apa-apa deh, doa pun juga sudah gak bisa.." jawabku.
I really don't know what I have to say, God... but I trust You, I believe in You, God ..that everything will gonna be okay..

Untungnya, dari pagi aku mendengar alunan lagu-lagu rohani dari speaker ruangan yang tiba-tiba memberiku kekuatan, ketenangan. Thanks God, Engkaulah kekuatanku..
Makasih juga buat pihak RS, ternyata meski terdengar sayup-sayup tapi sanggup memberi ketenangan buat pasien. Terlebih ada bagian pelayanan khusus yang datang mendoakan untuk kelancaran operasiku. Terima kasih.

Jam 11 siang, suster datang dan menyampaikan kabar kalau dr.Syarief sedang menangani pasien yang melahirkan sesar, jadi jadwal operasiku agak terlambat.
Jam 12 siang, suster kembali datang. Tapi kali ini memanggil namaku untuk bisa masuk ke ruang operasi (eng ing eeng..)
Dengan dibantu beberapa suster, aku dipindah ke bed yang lain. Duuh, kenapa badanku jadi    kaku begini? cuma karna ada infus dan kateter aja sampai merasa tak berdaya. 
Berdoa terus ya suamiku...
Lalu aku didorong ke ruang operasi. Tak henti-hentinya aku berdoa dalam hati, sambil melihat diatas pintu masuk ruang operasi ada papan tertulis 'Tetaplah Berdoa'..
Sampai di dalam ruangan operasi, aku ganti bed lagi (mungkin ini bed khusus untuk operasi).

Selanjutnya aku dibawa masuk lagi ke ruangan yang benar2 inilah ruang operasi. 
This is it..! Segala macam peralatan medis yang asing bagiku (karena ini pengalaman pertama operasi) ada disekelilingku, lampu-lampu sorot yang besar2. Beberapa Suster dan perawat laki-laki mondar-mandir menyiapkan segala sesuatunya. Tapi tak juga kulihat wajah dr.Syarief yang akan mengoperasiku. Yang datang kemudian adalah dokter anestesi. Lalu mulailah dokter itu memberi suntikan lewat infus, dan aku yakin inilah saatnya aku dibius... 
" Merem aja ya bu...karna suntikannya nanti bikin sedikit agak pusing.." kata dokter.
Itulah kata-kata terakhir yang kudengar. Sambil terus komat-kamit baca doa, aku mulai merasakan badanku serasa kesemutan, suara-suara juga sudah terdengar agak jauh..pelan...lalu...ZzzzzZzz...

Aku mulai agak tersadar, pertama yang aku rasakan adalah dinginnya oksigen di hidungku, dan meski agak berat aku berusaha menggeser tanganku. Pertama yang ingin aku raba adalah bagian perutku. Ternyata sudah terasa ada plester yang menempel pas di pusar (operasi laparoscopy ini hanya membutuhkan 3 lubang kecil di perut dan pusar). 
Akhirnya lega, ternyata operasi sudah selesai, dan aku sudah di ruang pemulihan.
Thanks God, You wake me up already
Suara-suara juga sudah mulai terdengar. Pelan-pelan kubuka mata dan yang pertama kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul 2 siang. 
Jadi butuh waktu 2 jam untuk tindakan operasi dan pemulihan.
Suster melihat kalau aku sudah sadar, lalu aku didorong lagi masuk ruangan rawat.
Sudah kudengar suara suamiku,...dan suster yang bilang kalau aku boleh minum setelah benar-benar sadar. Karena masih ngantuk, tidur lagi deh..ZzzZzz..

3 November 2012
Hari ini adalah hari pemulihan pasca operasi. Aku masih terbaring tak berdaya. Infus, kateter masih melekat, jadi belum bisa apa2. Makan juga disuapin suami. Tidur seharian bikin punggungku pegel semua. Semoga semua cepat berlalu..
Sorenya, dr.Syarief berkunjung pasien, pas ! suami baru aja keluar mencarikanku kue pao isi coklat yang kuminta. Jadilah cuma aku sendiri yang mendengarkan penjelasan dokter. Dokter bilang, kalau saluranku sudah bagus semua. Kista yang selama ini tampak di foto HSG, ternyata kista yang berisi cairan coklat dan sudah diangkat, beserta perlengketan2 yang terbilang parah di saluran kiri juga sudah dibereskan! Puji Tuhan..
Dan dokter juga sudah langsung memberikan suntikan anti perlengketan (namanya : Guardix-sol. 5g). Jadi suntikan ini untuk mencegah agar tidak terjadi perlengketan kembali.

4 November 2012
Hari ini aku boleh pulang. Yiippii....
Pagi-pagi suami sudah mengurus segala sesuatunya. Tagihan sudah dibayar, resep-resep obat untuk diminum di rumah, tinggal menunggu surat ijin pulang.
Suster juga sudah melepas semua 'bebanku' selama ini, infus dan kateter.
Aku siap pulang... 

Setelah 1 minggu pasca laparocopy biasanya kita akan disuruh datang untuk kontrol dan lepas plester yang menempel di 3 bagian di perut. Tadinya agak ngeri juga membayangkan seperti apa berkas lubang operasinya ya? 

Tapi ternyata...,bekasnya tuh keciiiil...banget! Karena hanya butuh 1-2 jahitan di setiap lubang, itupun jahitnya dibawah kulit, lalu kulit luarnya di 'lem' sangat rapi.
Dan setelah aku perhatikan, bekas luka laparoscopy itu hanya terlihat seperti luka kena kuku! Jadi teman-teman yang belum pernah dan akan menjalani laparoscopy ini jangan takut yah,...nanti juga akan dikasih resep obat saleb untuk penghilang bekas luka.

Dan untuk yang ingin tahu total biaya operasi laparoscopy, sbb :
(maaf tidak bisa merinci satu2 karena panjang)
- Total biaya perawatan (dari masuk, farmasi, radiologi, laboratorium, bedah sentral, ruang perawatan kls-2, visit dokter, administrasi ,dll) sebesar Rp. 12.955.900,-
- Ditambah suntikan anti perlengketan seharga 1jt-an.



 ez24040711773818850.jpg






Program Pasca Laparoscopy

Pasca menjalani operasi Laparascopy tgl 2 November 2012, aku melalui hari-hari pemulihan di rumah. Masih nggak bisa dan nggak boleh beraktivitas terlalu banyak.
Oya..sepulang dari RS aku masih mengeluarkan sedikit darah di mrs-V, kemungkinan itu darah sisa operasi. Sesampai di rumah selang 2 hari darah keluar bertambah banyak,..dan kemungkinan aku lanjut keluar haid. 1 minggu kemudian kontrol ke dokter dan sudah bisa lepas plester yang ada di 3 bagian. Hampir 2 minggu badan masih saja lemas, seakan hilang tenaga, mau mengerjakan sesuatu bahkan hobbyku dan kegiatanku merajut juga terbengkalai karna masih belum keluar moodnya.


Tgl 4 Desember 2012, hari pertama haid, aku langsung daftar dokter. Kuputuskan untuk melanjutkan program bersama dr.Syarief Thaufik ,SpOG (dokter yang juga mengoperasiku).
Tapi untuk melanjutkan program ini aku memilih tempat di RS Hermina Semarang. Selain tempatnya yg tidak terlalu jauh dengan tempat kerja suami, dr. Syarief juga praktek setiap hari dari senin sampai sabtu, jadi aku bisa mudah menyesuaikan waktu untuk periksa.

Setiap kali datang, jangan tanya antriannya...pasiennya banyak dan aku selalu dapat nomor antrian diatas 25. Kali ini aku dapat obat pemacu ovulasi untuk diminum selama 5 hari, mulai hari ke-3 haid. Lalu dijelaskan masa suburnya, dan diberi resep obat penguat kandungan dan vitamin untuk diminum mulai masa subur. Bulan ke-1 ini masih dianjurkan alami dulu. Dan ternyata,..belum berhasil.

Tgl 1 Januari 2013, Haid datang. Kembalilah aku ke dokter lagi. Tapi berhubung daftar dokter via telpon harus 1 minggu sebelumnya, sedangkan aku telpon dadakan untuk tgl 2 antrian sudah habis sampai 1 minggu kedepan. Duh, gimana nih... Akhirnya aku jelasin sama sang penerima telpon bahwa aku masih program dan saat haid aku harus ketemu sama dokternya. Dan aku disuruh datang  tgl 2 tapi lapor dulu sama suster yang terima antrian kira-kira masih bisa terima pasien atau tidak. 
Tgl 2 Januari 2013, aku datang dan ternyata....sudah nggak bisa terima pasien lagi, karena hari itu antrian sudah mencapai 40 nomor! Waah...hebat ya dokter satu ini.
Padahal aku sudah menunggu 2 jam. Akhirnya suster bilang aku boleh daftar untuk besoknya, tgl 3. Jadilah aku langsung menuju resepsionis dan dapat nomor antrian 26. 
Tgl 3 Januari, aku balik lagi ke Hermina, ketemu dokter. Masih dapat obat yang sama, obat pemacu ovulasi dan vitamin untuk aku dan ada obat untuk suami. Hmm...ternyata obatnya suami yang mahal!
Hari ke-12 ada pemeriksaan USG-tranV untuk melihat perkembangan sel telur.
Karna haidku mulai tgl 1, maka tgl 12 Januari 2013 aku datang untuk menjalani cek sel telur.
Pemeriksaan dimulai..
" wah telurnya banyak,bu.. ibu lihat sendiri ya, " kata dokter. 
Dan memang saat aku lihat di layar monitor ada 3 folikel di sebelah kanan dengan ukuran 22mm - 22mm - 23mm. Dan disebelah kiri ada 1 folikel dengan ukuran 21mm. Ketebalan rahim 9,1mm (kata dokter, ketebalan rahim minimal 7mm untuk bisa hamil).
Jadi jumlah total folikelku yang sudah terbilang matang ada 4 buah (ukuran folikel yang diharapkan bisa ovulasi adalah minimal 18mm). Waah,...aku girang tak terkiraa...hehe
Dokter lalu menawariku inseminasi. Karena aku sering googling tentang program yang satu ini, jadi aku sudah bisa membayangkan prosedurnya. Cuma, karena setelah laparoscopy aku sedikit pede kalau bakal bisa hamil alami, aku pending dulu deh inseminasinya..
Lalu dokter memberi resep obat penguat kandungan dan vitamin. Tapi ada yang berbeda kali ini, beberapa hari kemudian entah ini efek dari obat atau efek dari pecahnya folikel-folikel itu, kulitku mendadak jadi sangat kasar secara drastis, bahkan hampir seluruh wajahku pecah2 dan mengelupas, mulai keluar jerawat, pusing luar biasa, dan kram perut.
Apa boleh buat, akhirnya aku harus ke dokter kulit untuk mengobati mukaku yang makin hari makin tak jelas...

Inilah gambaran hasil USG-Transvaginal (cek sel telur-ku) :


Tgl 29 Januari 2013, aku mendapat haid...itu berarti program bulan ini masih belum juga berhasil. So sad.. 4 telurku terbuang sia-sia. Padahal aku sudah optimis banget bakal hamil bulan itu, karena kupikir dari 4 sel telur yang matang harusnya ada salah 1 atau salah 2 yang bisa dibuahi... (asal jangan salah semua ya,..ntar gak dapet nilai, hahahaa..)

Setelah kupikir-pikir, kuanalisa,..apa lagi ya yang menjadi kendalanya?
Akhirnya, bulan ini akan kuterima tawaran dokter untuk inseminasi, dan suami setuju. yes!
Tgl 1 Februari 2013, aku sudah daftar dokter dan dapat nomor antrian 18 (lumayan, baru kali ini dapat nomor dibawah 20) dan datanglah aku kesana.
Bertatap muka dengan dokter, aku mulai bertanya-tanya tentang penyebab kenapa aku masih belum juga berhasil hamil. Dokter menjawab, memang terkadang ada kasus unexplain. Lalu aku tanya soal inseminasi (meski sebelumnya aku sudah sering baca-baca tentang insem ini ) tapi belum puas rasanya kalau belum dengar sendiri dari ahlinya. Setelah dijelaskan bla-bla-bla tentang inseminasi ini, aku diberi resep seperti biasa, obat jenis clomyphene citrate untuk pemicu ovulasi dan vitamin. Dan aku disuruh balik lagi hari ke-12 untuk cek sel telur.
Tapi sebelumnya, aku sudah mengutarakan niatku pada dokter, 
" dok, kalau nanti hasil cek telurnya bagus seperti bulan kemarin, dalam arti jumlahnya lebih dari 3, saya mau langsung insem yah dok,.."  
" oya bu, bisa " kata dokter.

Hari-hari selanjutnya, seperti biasa minum obat sesuai aturan sampai habis, dan sedikit mengurangi kegiatan. Tapi bulan ini sepertinya tubuhku agak kelebihan dalam merespon obat hormon ini. Perut sakit nggak ketulungan,..badan jadi demam, pegel luar biasa, nyeri dari pinggang sampai ujung kaki rasanya...
Sampai suatu sore aku sudah merasa nggak kuat, suami pulang kerja terpaksa harus melihatku di tempat tidur menangis. Duuh... Tuhan, aku pengen semua cepat selesai...


Tuhan, ku percaya Engkau tidak akan membiarkan usaha anak-anakMu berujung sia-sia...ku percaya Engkau sudah menyediakan malaikat-malaikat kecil untuk keluarga kami... ku percaya Engkau telah membekali kami dengan organ-organ yang sehat dan luar biasa,...Dan jika masih ku diberi ijin tuk memohon,.. kumohon kemurahan-Mu atas setiap usaha dan perjuangan kami untuk bisa secepatnya meraih Amanah-Mu.. Andaikata pun perjalanan yang kan kutempuh ini masih panjang, beri aku kekuatan fisik, bathin, mental, tuk bisa melewati hari-hari.... Thank you, God. Amen "


Selanjutnya, adalah usahaku dengan mencoba INSEMINASI (IUI)..

4 comments:

Anonymous said...

Mbak febe, salam kenal yaa...kebetulan sy jg didiagnosa mengalami penyumbatan saluran rahim sblh kiri dan oleh sebab itu menjadi sulit utk hamil, dokter memberikan 2 opsi yaitu oprasi laparoscopy dan bayi tabung, tapi dokter ttp menyarankan opsi yg pertama, yg sy ingin tanyakan setelah mbak febe melakukan operasi dan inseminasi apakah sdh ada hasilnya? Sy sdh inseminasi jg cm tdk berhasil :( kebetulan sy program baby d hermina semarang dgn Dr. Fadjar, mohon info selanjutnya setelah mbak operasi dong mbak :) ᵗʰᵃᶰᵏᵧₒᵤ ⌣̈ yaaa...

febe gracia said...

Lebih baik dicoba dulu utk opsi pertama (laparoscopy).
Aku malah saluran buntu dua2nya...setelah laparoscopy hasilnya bgs dan saluran udah terbuka, ini terbukti dari hsl inseminasi 3x sudah terjadi pembuahan (berarti saluran udah lancar)...hanya memang mungkin blm rejekinya aja, insemku msh blm berhasil..hehe..
Tp kl kamu udah siap utk bayi tabung ya gpp sih,...btw apapun nanti opsi yg diambil, semangat yaa...good luck n GBU.

Anonymous said...

Proses laparoscopy sakit gk mbak? "̮♡hϱϱ♡hϱϱ♡hϱϱ♡"̮..,klo boleh tau mbak febe abis brp utk biaya operasinya? utk bayi tabungnya dokter blg klo dipaksakan tingkat keberhasilannya kecil sekali mengingat cairan yg menyumbat di saluran itu membunuh setiap sperma yg masuk :( sy baru akan kontrol lg dan konsul ttg laparoscopynya setelah selesai menstruasi bln ini mbak, btw biaya insem jg kan mahal mbak febe apalagi mbak udh bbrp kali insem kok gk cb bayi tabung sj? Siapa tau krn sdh d operasi bs langsung jadi dan kembar :)

rizkiana rahmi said...

namaku ana, apakah 14 juta itu sudah semua sampai keluar dari RS?
terima kasih infonya